Judi Sabung Ayam Online Terpercaya di Indonesia

Judi Sabung Ayam Online Terpercaya di Indonesia

Judi Sabung Ayam Online Terpercaya di Indonesia

Judi Sabung Ayam Online Terpercaya di Indonesia

Judi Sabung Ayam On-line Terpercaya di Indonesia Terutama di Propinsi Bali, Mereka Melegalkan Semua Type Sabung Ayam – Adu Ayam Dengan Kebiasaan Yang Masih tetap Menempel di Daerah Bali.

Denpasar, 3 Januari 2017 – Sorak-sorai pemirsa menemani dua ekor ayam yang tengah bertarung beradu ketangguhan. Mereka begitu ketertarikan lihat setiap gerak ayam petarung yang mereka dukung. Darah mulai bercucuran, sorakan makin ramai. Ini pertarungan berdarah Judi Sabung Ayam.

Ada dua type sabung ayam dalam kebiasaan Bali. Yang pertama yaitu sabung ayam yang umum dimaksud tajen.

Arti ini merujuk pada permainan sabung ayam sebagai hiburan golongan lelaki.

Ayam aduan yang mempunyai otot-otot kuat jadi jagoan beberapa peserta. Dalam aktivitas ini umumnya juga berjalan perjudian.

Satu type yang lain yaitu tabuh rah. Dalam type ini, adu ayam adalah ritual upacara agama. Adu ayam cuma diperbolehkan hingga tiga kali aduan serta tak bisa dibarengi taruhan atau perjudian. Ritual ini adalah satu bentuk pengorbanan hewan yakni menghadirkan darah ayam pada roh-roh jahat. Tabuh rah sendiri bermakna menumpahkan darah.

Tajen atau permainan Sabung Ayam Online dengan dibarengi taruhan sesungguhnya telah dilarang, walau demikian tabuh rah sebagai ritual keagamaan masih tetap selalu dilestarikan. Mengakibatkan banyak acara tajen menggunakan kedok tabuh rah. Hingga judi tetaplah selalu berjalan. Satu manipulasi kebiasaan untuk melanggengkan Judi Sabung Ayam.

Tajen adalah sebutan dari aktivitas Tabuh Rah, di mana kata Tajen ini diprediksikan datang dari kata “Tajian”, Taji adalah semacam pisau tajam yang mempunyai 2 segi mata pisau, yang panjangnya kurang lebih sejari telunjuk orang dewasa yang dipasang di kaki ayam jago.

Maksud dari pemasangan “Taji” ini supaya ayam jago yang diadu itu bisa melukai lawannya hingga ada darah yang menetes ke tanah. nah, tetesan darah berikut yang dimaksud “Tabuh Rah” yang artinya ritual menyebarkan darah suci.

“Tajen” adalah sisi dari acara ritual keagamaan tabuh rah atau prang sata dalam orang-orang Hindu Bali. Yang mana tabuh rah ini mempersyaratkan ada darah yang menetes sebagai lambang/prasyarat menyucikan umat manusia dari ketamakan/keserakahan pada nilai-nilai materialistis serta duniawi.

Tabuh rah juga berarti sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permintaan umat manusia pada Sang Hyang Widhi Wasa supaya terlepas dari marabahaya.

Permainan Judi Sabung Ayam Dilarang Agama Hindu

Ketidaktahuan atau awidya kalau judi dilarang Agama Hindu diantaranya karna pengetahuan agama terlebih yang menyangkut Tattwa serta Susila kurang disebarkan ke orang-orang.

Motivasi lain berjudi yaitu hasrat untuk memperoleh duit dengan cepat tanpa ada bekerja. Yang disebut dengan bekerja menurut Agama Hindu yaitu pekerjaan yang terkait dengan yadnya seperti ditulis dalam Bhagawadgita Bab III. 9 :

Yajnarthat karmano nyatra, loko yam karmabandhanah, tadartham karma kaunteya, muktasangah samacara.

Artinya

“Kecuali pekerjaan yang dikerjakan sebagai serta untuk yadnya, dunia ini dapat terikat dengan hukum karma. Oleh karena itu Oh Arjuna, kerjakanlah pekerjaanmu sebagai yadnya, lepaskan diri dari semuanya ikatan. ”

Dengan hal tersebut mereka yang menginginkan bisa hasil tanpa ada bekerja termasuk orang tamasik. Meskipun dalam judi ada unsur untung-untungan atau suatu hal yg tidak tentu, tak menyurutkan keberanian beberapa orang tamasik berjudi, jadi semakin mendorong hasrat mereka berspekulasi dengan harapan memperoleh kemenangan.

Dalam Manawa Dharmasastra V. 45, yakni “Yo’himsakaani bhuutani hina. Tyaatmasukheashayaa, sa jiwamsca mritascaiva na, Kvacitsukhamedhate” artinya : “Ia yang menyiksa mahluk hidup yg tidak beresiko dengan maksud untuk memperoleh kenikmatan nafsu untuk sendiri, orang itu akan tidak pernah rasakan kebahagiaan. Ia senantiasa ada dalam kondisi tak hidup serta tak juga mati. ”

Orang bali berprinsip mesti berlangsung keseimbangan di antara keduanya.

Diluar itu masih tetap dalam kitab suci Manawa Dharmasastra Buku IX (Atha Nawano Dyayah) sloka 221 hingga 228 dengan terang mengatakan ada larangan tentang judi. Sloka 223 membedakan pada perjudian dengan pertaruhan.

Apabila objeknya benda-benda tidak berjiwa dimaksud perjudian. Umpamanya duit, mobil, tanah serta tempat tinggal. Sedang apabila objeknya mahluk hidup dimaksud pertaruhan. Umpamanya, binatang peliharaan, manusia, bahkan juga istri sendiri.

Seperti yang dikerjakan oleh panca pandawa dalam epos Bharata Yudha saat Dewi Drupadi yang jadikan objek pertaruhan melawan Korawa. Diluar itu dalam kitab suci Rg Veda Mandala X. Sukta 34. Mantra 3, 10 serta 13 dengan tegas melarang orang berjudi. Berjudi itu bisa menyengsarakan keluarga. Lakukanlah sawah ladang cukupkan dan puaskanlah pendapatan itu.

Menurut histori, tajen dikira sebagai satu proyeksi profan dari satu diantara upacara yadnya di Bali yang bernama tabuh rah.

Tabuh rah adalah satu upacara suci yang dilangsungkan sebagai kelengkapan waktu upacara macaru atau bhuta yadnya yang dikerjakan ketika tilem.

Upacara tabuh rah umumnya dikerjakan berbentuk adu ayam, hingga satu diantara ayam meneteskan darah ke tanah. Darah yang menetes ke tanah dikira sebagai yadnya yang dipersembahkan pada bhuta, lantas selanjutnya binatang yang jadikan yadnya itu diakui bakal naik tingkat pada reinkarnasi setelah itu untuk jadi binatang lain dengan derajat lebih tinggi atau manusia.

Matabuh darah binatang dengan warna merah berikut yang konon pada akhirnya melahirkan budaya judi menyabung ayam yang bernama tajen.

Hingga sekarang ini, masalah tajen di Bali tetaplah jadi suatu hal yang cukup dilematis. Dalam perspektif hukum positif, aktivitas apa pun yang memiliki kandungan unsur permainan serta memasukkan taruhan berbentuk duit, jadi dikira sebagai perjudian serta dikira terlarang.

Tetapi di segi lain, tajen yang sesungguhnya adalah satu proyeksi profan dari tabuh rah sebagai satu diantara bentuk upacara kebiasaan yang sakral, pantas dijunjung tinggi, dihormati serta sudah pasti dilestarikan.

Ke-2 hal diatas, yakni pada arti hakiki upacara kebiasaan di Bali serta pola pergeseran arti yang berlangsung pada masalah tajen pada kenyatannya sama-sama berintegrasi serta dengan cara konkret susah dipisahkan. Pergeseran arti yang berlangsung telah terlanjur terinternalisasi dalam kesadaran intelektual serta perasaan orang Bali. Tanpa ada diakui pergeseran arti itu “mencengkeram orang-orang Bali”, pastinya orang-orang Bali yang menyepakati serta menjaga ada tajen.

Tajen yang awalnya dikira datang dari upacara tabuh rah, sudah berdiri dengan sendiri jadi satu konstruksi budaya yang tanpa ada diakui mereka terjerat dalam konstruksi nilai yang bertentangan dengan inti nilai yang sesungguhnya diyakini oleh orang-orang Hindu-Bali.

Satu harmonisasi pada bhuana agung serta bhuana alit, upakara suci untuk upacara suci, upacara suci untuk melindungi kenyataan ambang pada yang abstrak serta yang riil. Pada nilai kebiasaan, Agama hukum positif serta kebutuhan industri pariwisata.

Tajen berasal-usul dari tabuh rah, satu diantara yadnya (upacara) dalam orang-orang Hindu di Bali.

Maksudnya mulia, yaitu mengharmoniskan jalinan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya memakai binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, serta beragam type hewan peliharaan lain. Persembahan itu dikerjakan lewat cara nyambleh (leher kurban dipotong sesudah dimanterai). Di zaman Majapahit diistilahkan dengan “Menetak gula ayam” Penaburan darah dikerjakan dengan nyambleh, perang sata (telung perahatan) diperlengkapi dengan adu-aduan : kemiri, telor, kelapa, andel-andel, bersama upakaranya

Perang sata adalah lambang perjuangan hidup.

Pada akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang berawal dari pelarian beberapa orang Majapahit, sekitaran th. 1200. Sama dengan beragam kesibukan lain yang dikerjakan orang-orang Bali dalam melakukan ritual, terutama yang terkait dengan penguasa jagad, tabuh rah mempunyai dasar yang bertumpu pada basic sastra.